Selasa, 02 April 2013



DULMULUK SEBAGAI KARYA SASTRA DRAMA TRADISIONAL PALEMBANG

Oleh Zainal Nusyirwan

  1. Pendahuluan

Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan, sebuah kreasi manusia dalam mengekpresikan perjalanan kehidupan manusia.Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaan kreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan bahasa untuk mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebuah karya sastra, pada umumnya, berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia. Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya. (dalam Sarjidu, 2004: 2). Yang termasuk dalam kategori Sastra adalah: Novel cerita/cerpen (tertulis/lisan), syair, pantun, sandiwara/ drama, lukisan/kaligrafi.

Drama / teater adalah salah satu sastra yang amat popular hingga sekarang. Contohnya sinetron, film layar lebar, dan pertunjukan – pertunjukan lain yang menggambarkan kehidupan makhluk hidup.

Dul muluk adalah teater / drama tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan. Seni pertunjukan ini bermulai dari syair Raja Ali Haji, sastrawan yang pernah bermukim di Riau. Kemudian menyebar hingga ke Palembang.

Dalam Dulmuluk ada lakon, syair, lagu-lagu Melayu, dan lawakan. Lawakan, yang biasa disebut khadam, sering mengangkat dan menertawakan ironi kehidupan sehari- hari masyarakat saat itu.

Bentuk pementasan Dulmuluk serupa dengan lenong dari masyarakat Betawi di Jakarta. Akting di panggung dibawakan secara spontan dan menghibur. Penonton pun bisa membalas percakapan di atas panggung. Pertunjukan Dulmuluk mulai dikenal pada awal abad ke-20. Pada masa penjajahan Jepang sejak tahun 1942, seni rakyat itu berkembang menjadi teater tradisi yang dipentaskan dengan panggung. Saat itu kelompok teater Dulmuluk bermunculan karena digemari oleh masyarakat. Dulmuluk menarik karena menampilkan teater yang lengkap. Ada lakon, syair, lagu-lagu Melayu, dan lawakan. Lawakan, yang biasa disebut khadam, sering mengangkat dan menertawakan ironi kehidupan sehari- hari masyarakat. Perjalanan Dulmuluk mulai surut sejak tahun 1990-an, ketika alternatif hiburan semakin banyak, terutama melalui televisi dan film layar lebar. Teater tradisi itu semakin merosot setelah orang yang menggelar hajatan lebih memilih pertunjukan organ tunggal.

Berdasarkan latar belakang diatas,penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan tentang Dulmuluk sebagai Karya sastra drama tradisional Palembang.

2. Pembahasan
2.1 Pengertian drama

Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra. Dalam drama, penulis ingin menyampaikan pesan melalui akting dan dialog. Biasanya drama menampilkan sesuatu hal yang biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga para penonton diajak untuk seolah-olah ikut menyaksikan dan merasakan kehidupan dan kejadian dalam masyarakat.

Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.

A. Drama Baru(Drama Modern)

Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.

B. Drama Lama(Drama Klasik)

Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.

Macam-Macam Drama Berdasarkan Isi Kandungan Cerita :

a. Drama Komedi

Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.

b. Drama Tragedi

Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.

c. Drama Tragedi Komedi

Drama tragedi-komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.

d. Opera

Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian.

e. Lelucon / Dagelan

Lelucon adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.

f. Operet / Operette

Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek.

g. Pantomim

Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.


h. Tablau


Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.


i. Passie


Passie adalah drama yang mengandung unsur agama / relijius.


j. Wayang


Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.














2.2 Unsur –Unsur Drama


Menurut Aminuddin (1990:94) unsur-unsur yang terdapat dalam sebuah teks drama adalah:


A. Penokohan dan Perwatakan


Unsur utama dalam karya drama adalah pelaku. Dalam cerita pelaku
berfungsi untuk


a. Menggambarkan peristiwa melalui lakuan, dialog, dan monolog,


b. menampilkan gagasan penulis naskah secara tidak langsung,


c. membentuk rangkaian cerita sejalan dengan peristiwa yang ditampilkan, dan


d. menggambarkan tema atau ide dasar yang ingin dipaparkan penulis naskah melalui cerita yang ditampilkan.


B. Latar Cerita


Termasuk dalam latar cerita adalah latar berupa peristiwa, benda, objek, suasana, maupun situasi tertentu. Latar dalam drama selain berfungsi untuk membuat cerita menjadi lebih tampak hidup juga dapat dimanfaatkan untuk menggambarkan gagasan tertentu secara tidak langsung Latar cerita juga bisa berupa lingkungan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan sosial budaya. Dalam hal demikian bisa juga latar tersebut tidak dapat ditentukan berdasarkan gambaran secara fisik tetapi mesti ditafsirkan oleh pembaca atau penonton.










C. Tema Cerita


Tema merupakan ide dasar yang melandasi pemaparan suatu cerita. Tema mesti dibedakan dengan nilai moral atau amanat. Tema
mewujudkan dalam gambaran peristiwa maupun rangkaian
cerita yang berbeda-beda sebagai lay down atau landas tumpu penceritaan sehingga pengembangan cerita mestilah menunjukkan keselarasan dengan tema ataupun berbagai pokok permasalahan yang digarap melalui pengembangan ceritanya.


D. Penggunaan Gaya Bahasa


Sebagaimana dalam puisi, karya drama juga menggunakan gaya bahasa dalam penerapannya. Penggunaan gaya bahasa tersebut antara lain difungsikan untuk.


1. memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik,


2. menggambarkan suasana lebih hidup dan menarik,


3. untuk menekankan suatu gagasan,


4. untuk menyampaikan gagasan secara tidak langsung.


Meskipun ada beberapa kesamaan dengan penggunaan gaya bahasa dalam puisi maupun karya drama pada umumnya, dalam drama terdapat penggunaan gaya bahasa yang sulit digunakan dalam puisi karena penggunaan gaya bahasa tersebut berkaitan dengan penggambaran suatu cerita keseluruhan.






E. Rangkaian Cerita


Penentuan rangkaian cerita dalam drama berbagai macam. Apabila
ditentukan berdasarkan cerita berbentuk roman misalnya, rangkaian cerita tersebut dapat digambarkan melalui tahap-tahap; perkenalan, komplikasi, konflik, klimaks,antiklimaks, dan penyelesaian. Unsur-unsur dan rangkaian cerita tersebut tidak selalu berlaku dalam setiap cerita drama. Untuk menyusunnya pun pembaca harus menggambarkan ulang berbagai peristiwa yang termuat dalam cerita yang dibacanya. Untuk menyusun gambaran peristiwa tersebut sehingga membentuk sebuah plot, pembaca mungkin menggarapnya berdasarkan urutan waktu maupun urutan sebab akibat. Dalam drama yang dibagi menjadi sejumlah babak biasanya kita menemukan detail tahapan cerita dalam setiap babaknya yang dapat kita rinci ke dalam tahap-tahap tertentu. Bahkan tidak terutup kemungkinan dalam setiap babak tersebut seakan-akan kita sudah bisa membentuk sebuah kesatuan cerita yang belum menggambarkan adanya klimaks dan penyelesaian.


2.3 Sejarah Drama Dulmuluk


Hikayat Dul Muluk ini dikarang oleh seorang wanita bernama Saleha, yang merupakan saudara dari Raja Ali bin Raja Achmad Ibnu dan bertahta di negeri Riau sekitar abad 19. Pada waktu itu Raja Ali memiliki hubungan erat dengan salah seorang hakim di Batavia yang bernama doktor Philipus Peiter Poerda Van Eysinga, mereka sering berkirim surat dan saling bertukar tanda mata, diantara pemberian Raja Ali tersebut terdapatlah naskah Abdul Muluk, sehingga atas bantuan dari Philiphus inilah pada tahun 1847 naskah tersebut diterbitkan pertama kalinya dalam bentuk buku syair yang pertama berjudul kejayaan kerajaan melayu. Seiring berjalannya waktu syair Abdul Muluk ini berkembang hingga tersebar di kawasan semenanjung Melayu terutama Malaka, kemudian Sumatera Selatan yang tidak terlepas dari seorang keturunan Arab yang merupakan pedagang yang bernama Syekh Achmad Bakar atau Wan Bakar yang membacakan syair tentang Abdul Muluk di sekitar rumahnya di Tangga Takat, 16 Ulu. Acara itu menarik minat masyarakat sehingga datang berkerumun. Agar lebih menarik, pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang, ditambah iringan musik.Pertunjukan itu mulai dikenal sebagai dul muluk pada awal abad ke-20. Pada masa penjajahan Jepang sejak tahun 1942, seni rakyat itu berkembang menjadi teater tradisi yang dipentaskan dengan panggung. Grup teater kemudian bermunculan dan Dulmuluk tumbuh dan digemari masyarakat.









2.4 Pertunjukan Teater Dul Muluk sebagai Karya Sastra Tradisional


Terdapat enam aspek seni dalam pertunjukan teater Dulmuluk sebagai seni tradisional. adalah:


1. Seni Drama


Dulmuluk dalam pementasannya melibatkan pemain yang dimainkan secara kolektif, menggunakan dialog secara spontanitas.














2. Seni Sastra


Menggunakan dialog atau bahasa yang halus, jika dirasakan seperti syair dan pantun, hal tersebut menjadi media ungkapan untuk berkomunikasi dengan penikmatnya.


Bahasa ungkap tersebut mewakili tokoh yang sedang dimainkan, semua dibawakan secara improvisasi. Pemain Dulmuluk sangat kuat dalam membawakan ungkapan-ungkapan dengan nada pantun (sastra), dengan mengolah cerita-cerita rakyat berupa sastra lisan yang dikenal oleh masyarakat lama adalah merupakan modal utama bagi setiap pemain teater Dulmuluk, seperti cerita hikayat Abdul Muluk, hikayat Siti Zubaedah, hikayat Indra Bangsawan. Cerita-cerita tersebut adalah cerita paling menarik di masanya.


3. Seni Musik dan Seni Suara


Iringan musik dalam pertunjukan teater Dulmuluk adalah terletak pada selingan pergantian babak atau adegan dan memberikan warna khas yang menarik pada pentas Dulmuluk:


a. Musik awal sebelum pemain naik ke atas panggung diperdengarkan musik “Keso”, musik ini menjadi tanda bahwa pertunjukan akan di mulai. Ketika terdengar musik “Barnas I”, maka muncullah pemain di atas pentas.


b. Musik pengiring “dagelan” atau musik ekstra.


c. Musik pengiring lagu dan tarian.


d. Musik pengundang penonton, musik ini bebas atau sama sekali tidak terkait dalam isi pertunjukan yakni musik disesuaikan dengan zamannya.


e. Musik akhir yakni musik Barnas II, sebagai tanda berakhirnya pertunjukan Dulmuluk.






4. Seni Tari


Gerak tarian digunakan dalam perpindahan adegan satu ke adegan berikutnya, gerakannya selektif atau disesuaikan dan sifat tarian tidak merupakan bagian dari cerita yang sedang dipentaskan.






5. Seni Lawak


Komedi adalah bahan utama dalam pentas Dulmuluk, lawak terutama dipakai untuk sindiran-sindiran sebagai bahasa komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada penonton.






6. Seni Rupa


Beragam tata rias pemain, busana pemain dan dekorasi panggung adalah satu kesatuan yang keterikatannya tak dapat dipisahkan dengan pertunjukan Dulmuluk.


Dilihat dari unsur –unsur drama, Dulmuluk menjadi teater rakyat, yaitu teater tradisional yang memiliki ciri khas dimainkan dengan tetabuan gendang, jidur, gong dan biola, serta bercerita mengenai kehidupan kerajaan, rakyat jelata dengan disisipi kritik – kritik sosial. Fenomena itu bukan semata karena inspirasi penciptaannya berangkat dari teks-teks Melayu klasik. Di luar itu ada proses trial and error, semacam eksperimentasi, tentang bagaimana sebuah teks bisa tampil lebih menarik bila dihadirkan sebagai sebuah pertunjukan seni.


Seperti halnya kebanyakan teater tradisi di Nusantara, Dulmuluk tak cuma mengandalkan akting di atas panggung untuk menyampaikan pesan kepada penonton. Unsur nyanyian, musik, tari, gerak badan, pidato, dan ’komunikasi’ dengan penonton menjadi bagian tak terpisahkan dalam pentas Dulmuluk. Drama Dulmuluk memang memberikan apa yang ingin diketahui khalayak lewat aksi panggung mereka. Namun, kebanyakan orang lupa bahwa berhadapan dengan teater tradisi seperti Dulmuluk, unsur-unsur di luar pertunjukan drama itu sendiri yang tentunya masih dalam satu rangkaian peristiwa dengan memberi informasi berharga, termasuk fenomena sosial-budaya terkait keberadaan Dulmuluk sebagai bagian komponen seni pertunjukan rakyat. Perubahan sosial yang pesat dalam struktur sosial akan memunculkan masalah-masalah sosial dimana tradisi yang sudah mapan tidak menyediakan jawaban-jawaban yang dibutuhkan. Dulmuluk akhirnya merubah kemasanya dengan menambahkan ataupun melibatkan secara tidak sengaja maupun disengaja. Situasi yang baru ini biasanya dibentuk dari persepsi sekitar sebagai bentukan sosial yang bersifat baru sehingga budaya kehilangan sifat aslinya yang jelas tetapi Dul Muluk malah memperkaya karakternya secara kemasan pertunjukannya.


Kemasan Dulmuluk dalam perubahan sosial masyarakatnya adalah bentuk kontemplasi artistik yang berkaitan erat dengan suatu pandangan dunia. Pandangan ini memberikan pengaruh positif dan kecenderungannya sendiri serta mempunyai kemampuan untuk memahami dengan mengangkat gambar-gambar artistik. Hal tersebut diangkat karena kontektual dengan kehidupan masyarakat dalam lintas budaya global.


Perubahan sosial pertunjukan Dulmuluk secara ekstrinsik awalnya adalah pertunjukan ini mempunyai makna sebagai penyebaran agama (pesan moral). Saat ini selain membawa pesan lama unsur hiburannya pun menghiasi kemeriahan penikmatnya. Perubahan secara ekstrinsik pada pertunjukan Dulmuluk adalah menerima penandaan baru berupa kemasan dalam penambahan unsur-unsur yang melintasi sebagai kekayaan kreativitas masyarakatnya.


Perubahan substansial (perubahan intrinsik), tidak terjadi secara esensi (pesan moral) dari pertunjukan Dulmuluk itu sendiri. Tetapi terjadi pengurangan hakikat dari pertunjukan Dul Muluk yang ditradisikan nilai-nilainya, dihawatirkan lama-kelamaan akan meninggalkan keaslinya (mengalami transisi). Seiring pertumbuhan perjalanan perubahan sosial masyarakatnya ada yang prinsipil. Konsep sifatnya akan mengalami perubahan, konsep-konsep tersebut berupa; suksesi (waktu), identitas yang terlibat dalam suatu perubahan, atau sesuatu yang dapat diidentifikasikan, yang tetap relatif sama di dalam suatu keadaan yang sedang berubah, suatu tingkatan variasi atau perubahan dari identitas Dulmuluk.






3. Kesimpulan


Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra. Dalam drama, penulis ingin menyampaikan pesan melalui akting dan dialog.


Dulmuluk merupakan pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang, ditambah iringan musik. Pertunjukan itu mulai dikenal Masyarakat sebagai penikmat seni pertunjukan.Dul Muluk menghendaki pertunjukan Dul Muluk secara ekstrinsik awalnya adalah pertunjukan ini mempunyai makna sebagai penyebaran agama (pesan moral). Saat ini selain membawa pesan lama unsur hiburannya pun menghiasi kemeriahan penikmatnya. Perubahan secara ekstrinsik pada pertunjukan Dulmuluk adalah menerima penandaan baru berupa kemasan dalam penambahan unsur-unsur yang melintasi sebagai kekayaan kreativitas masyarakatnya.


Perubahan substansial (perubahan intrinsik), tidak terjadi secara esensi (pesan moral) dari pertunjukan Dulmuluk itu sendiri.mengalami masa transisi (keterasingan) budayanya. Perjalanan Dul Muluk yang mengalami perubahan fungsi men-tradisi akan membawa kepada kemungkinan-kemungkinan “pilihan” alternatif dalam proses penikmatan penonton. Pertunjukan Dulmuluk tidak dapat digolongkan dalam kategori pertunjukan betul atau tidak betul secara tradisi ataupun digolongkan sebagai pertunjukan yang baik atau buruk dalam kualitas pertunjukan, serta pertunjukan yang benar secara tradisi atau salah yang salah menurut tradisi, lebih parah lagi jika pertunjukan Dulmuluk mengalami proses pertunjukan yang disukai atau tidak disukai oleh penonton.


Perubahan sosial masyarakat dalam pertunjukan Dulmuluk, seharusnya memunculkan pilihan keyakinan-keyakinan dalam realitas fundamental yang bersifat jamak (pluralis).






DAFTAR PUSTAKA






Aminudin, 1994. Pengantar Apresiasi Karya Sastra.


Sinar Baru Algensindo. Bandung.


Mulawarman, dkk. 2011. “Suntingan Naskah Syair Abdul Muluk”. Balai Bahasa Propinsi Sumatera Selatan






29 Maret 2010 .Ulasan dari Bentara Budaya, PROFIL: Wak Pet, Dedengkot Kesenian Dulmuluk






Nara Sumber : Kemas H.Andi Syarifuddin, S.Ag,Wawancara/18 Maret 2013/10.00 WIB -11.30 WIB

0 komentar:

Poskan Komentar