SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA PADA MASA KOLONIAL BELANDA
PENDAHULUAN
I.1. Latar
Belakang
Pada zaman kolonial pemerintah Belanda
menyediakan sekolah yang beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi
kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Ciri yang khas dari sekolah-sekolah ini
ialah tidak adanya hubungan berbagai ragam sekolah itu. Namun lambat laun,
dalam berbagai macam sekolah yang terpisah-pisah itu terbentuklah
hubungan-hubungan sehingga terdapat suatu sistem yang menunjukkan kebulatan. Pendidikan
bagi anak-anak Indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi
kemudian berkembang secara vertical sehingga anak-anak Indonesia, melalui
pendidikan menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jalan
yang sulit dan sempit.
Lahirnya suatu sistem pendidikan bukanlah
hasil suatu perencanaan menyeluruh melainkan langkah demi langkah melalui
eksperimentasi dan didorong oleh kebutuhan praktis di bawah pengaruh kondisi
sosial, ekonomi, dan politik di Nederland maupun di Hindia Belanda. Selain itu
kejadian-kejadian di dunia luar, khususnya yang terjadi di Asia, mendorong
dipercepatnya pengembangan sistem pendidikan yang lengkap yang akhirnya,
setidaknya dalam teori, memberikan kesempatan kepada setiap anak desa yang
terpencil untuk memasuki perguruan tinggi. Dalam kenyataan hanya anak-anak yang
mendapat pelajaran di sekolah berorientasi Barat saja yang dapat melanjutkan
pelajarannya, sekalipun hanya terbatas pada segelintir orang saja.
I.2. Rumusan
Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
Apa
alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia?
Faktor
apa saja yang menyebabkan berlangsungnya politik etika?
Bagaimana
sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda?
Apa
saja ciri umum politik pendidikan Belanda?
I.3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
Agar
mengetahui alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi anak-anak Indonesia.
Agar
mengetahui faktor yang menyebabkan berlangsungnya politik etika.
Agar
mengetahui sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda.
Agar
mengetahui ciri umum politik pendidikan Belanda.
PEMBAHASAN
II.1. Pendidikan selama penjajahan Belanda
a.
Zaman
VOC (Kompeni)
Orang belanda datang ke indonesia bukan untuk
menjajah melainkan untuk berdagang. Mereka di motifasi oleh hasrat untuk
mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus mengarungi laut yang
berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil
rempah-rempah dari indonesia. Namun pedagang itu merasa perlunya memiliki
tempat yang permanen di daratan dari pada berdagang dari kapal yang berlabuh di
laut. Kantor dagang itu kemudian mereka perkuat dan persenjatai dan menjadi
benteng yang akhirnya menjadi landasan untuk menguasai daerah di sekitarnya.
Lambat laun kantor dagang itu beralih dari pusat komersial menjadi basis
politik dan teritorial. Setelah peperangan kolonial yang banyak akhirnya
indonesia jatuh seluruhnya di bawah pemerintahan belanda. Namun penguasaan daerah
jajahan ini baru selesai pada permulaan abad ke 20.
Metode kolonialisasi belanda sangat
sederhana. Mereka mempertahankan raja-raja yang berkuasa dan menjalankan
pemerintahan melalui raja-raja itu akan tetapi menuntut monopoli hak berdagang
dan eksploitasi sumber-sumber alam. Adat istiadat dan kebudayaan asli dibiarkan
tanpa perubahan aristokrasi tradisional digunakan oleh belanda untuk memerintah
negri ini dengan cara efisien dan murah. Oleh sebab belanda tidak mencampuri
kehidupan orang Indonesia secara langsung, maka sangat sedikit yang mereka
perbuat untuk pendidikan bangsa. Kecuali usaha menyebarkan agama mereka di
beberapa pulau di bagian timur Indonesia. Kegian pendidikan pertama yang
dilakukan VOC.
Pada permulaan abad ke 16 hampir se abad
sebelum kedatangan belanda, pedagang portugis menetap di bagian timur Indonesia
tempat rempah-rempah itu di hasilkan. Biasanya mereka didampingi oleh
misionaris yang memasukkan penduduk kedalam agama katolik yang paling berhasil
tiantara mereka adalah Ordo Jesuit di bawah pimpinan Feranciscus Xaverius.
Xaverius memandang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk penyebaran agama.
Seminari dibuka di ternate, kemudian di solor dan pendidikan agama yang lebih
tinggi dapat diperoleh di Goa, India, pusat kekuasaan portugis saat itu. Bahasa
portugis hamper sama populernya dengan bahasa melayu, kedudukan yang tak
kunjung di capai oleh bahasa Belanda dalam waktu 350 tahun penjajahan kekuasaan
portugis melemah akibat peperangan denngan raja-raja Indonesia dan akhirnya
dilenyapkan oleh belanda pada tahun 1605.
b.
Zaman
Pemerintahan Hindia Belanda Setelah VOC
Setelah VOC dibubarkan, para Gubernur/
komisaris jendral harus memulai system pendidikan dari dasarnya, karena pendidikan
zaman VOC berakhir dengan kegagalan total. Pemerintahan baru yang diresapi oleh
ide-ide liberal aliran aufklarung atau Enlightenment menaruh kepercayaan akan
pendidikan sebagai alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan social. Pada tahun
1808 Deandels seorang Gubernur Belanda mendapat perintah Raja Lodewijk untuk
meringankan nasib rakyat jelata dan orang-orang pribumi poetra,serta
melenyapkan perdagangan budak. Usaha Deandels tersebut tidak berhasil, bahkan
menambah penderitaan rakyat, karena ia mengadakan dan mewajibkan kerja paksa
(rodi).
Didalam lapangan pendidikan Deandels
memerintahkan kepada Bupati-bupati di Pulau Jawa agar mendirikan sekolah atasa
uasaha biaya sendiri untuk mendidik anak-anak mematuhi adat dan kebiasaan
sendiri. Kemidian Deandels mendirikan sekolah Bidan di Jakarta dan sekolah
ronggeng di Cirebon.
Kemudian Pada masa (interregnum inggris)
pemerintahan Inggris (1811-1816) tidak membawa perubahan dalam masalah
pendidikan walaupun Sir Stamford Raffles seorang ahli negara yang cemerlang. Ia
lebih memperhatikan perkembanagan ilmu pengetahuan, sedangkan pengajaran rakyat
dibiarkan sama sekali. Ia menulis buku History of Java.
Setelah ambruknya VOC tahun 1816 pemerintah
Belanda menggantikan kedudukan VOC. Statua Hindia Belanda tahun 1801 dengan
terang-terangan menyatakan bahwa tanah jajahan harus memberikan keuntungan yang
sebesar-besarnya kepada perdagangan dan kepada kekayaan negeri Belanda. Pada
tahun 1842 Markus, menteri jajahan, memberikan perintah agar Gubernur Jendral
berusaha dengan segenap tenaga agar memperbesar keuntungan bagi negerinya.
Walaupuan setiap Gubernur Jendaral pada penobatannya berjanji dengan hidmat
bahwa ia akan memajukan kesejahteraan hindia Belanda dengan segenap usuha
prinsip yang masih dipertahankan pada tahun 1854 ialah bahwa hindia Belanda
sebagai “negeri yang direbut harus terus member keuntungan kepada negeri
belanda sebagai tujuan pendidikan itu. Sekolah pertama bagi anak Belanda
dibuka di Jakarta pada tahun 1817 yang segera diikuti oleh pembukaan sekolah dikota
lain di Jawa. Prinsip yang dijadikan pegangan tercantum distatuta 1818 bahwa
sekolah-sekolah harus dibuka ditiap tempat bila diperlukan oleh penduduk
Belanda dan diizinkan oleh keadaan.
Gubernur Jendral Van der Capellen (1819-1823)
menganjurkan pendidikan rakyat dan pada tahun 1820 kembali regen-regen
diinstruksikan untuk menyediakan sekolah bagi penduduk untk mengajar anak-anak
membaca dan menulis serta mengenal budi peketi yang baik. Anjuran Gubernur
Jendral itu tidak berhasil untuk mengembangkan pendidikan oleh regen yang
aktif.
Tahun 1826 lapangan pendidikan dan pengajaran
terganganggu oleh adanyan usaha-usaha penghematan. Sekolah-sekolah yang ada
hanya bagi anak-anak Indonesia yang memeluk agama Nasrani. Alsannya
adalah karena adanya kesulitan financial yang berat yang dihadapi orang Belanda
sebagai akibat perang Diponegoro (1825-1830) yang mahal dan menelan banyak
korban seerta peperangan antara Belanda dan Belgia (1830-1839).
Kesulitan keuangan ini menyebabkan raja
belanda untuk meninggalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana yang
dianjurkan Van den Bosch, bekas Gubernur di Guyana, jajahan Belanda di Amerika
selatan, untuk memanfaatkan pekerjaan budak menjadi dasar eksploitasi colonial.
Ia membawa ide penggunaan kerja paksa(rodi) sebagai cara yang ampuh untuk
memperoleh cara usaha maksimal, yang kemudian terkenal dengan cultuur stelsel
atau tanam paksa yang memaksa penduduk untuk menghasilkan tanaman yang
diperlukan dipasaran Eropa.
Van den Bosch mengerti, bahwa untuk
memperbaiki stesel pembangunan ekonomi bagi belanda dibutuhkan tenaga-tenaga
ahli yang banyak. Setelah tahun 1848 dikeluarkan peraturan-peraturan yang
menunjukan perintah lambat laun menerima tanggung jawab yang lebih besar atas
pendidikan anak-anak Indonesia sebagai hasil perdebatan diparlemen Belanda dan
mencerminkan sikap Liberal yang lebih menguntungkan tehadap rakyat Indonesia.
Terbongkarnya penyalahgunaan system tanam paksa merupakan factor dalam perbahan
pandangan. Peraturan pemerintah tahun 1854 mengimtruksikan Gubernur Jendral
untuk mendirikan sekolah dalam tiap kabupaten bagi pendidikan anak pribumi.
Peraturan tahun 1863 mewajibkan Gubernur Jendral untuk mengusahakan terciptanya
situasi yang memungkinkan penduduk bumi putera pada umumnya menikmati
pendidikan.
Sistem tanam paksa dihapuskan tehun 1870 dan
digantikan dengan undang-undang Agraria 1870. Pada tahun itu di Indonesia
timbul masa baru dengan adanya undang-undang Agraria dari De Waal, yang member
kebebasan pada pengusaha-pengusaha pertania partikelir. Usaha-usaha
perekonomian makin maju, masyarakat lebih banyak lagi membutuhkan
pegawai. Sekolah-sekolah yang ada dianggap belum cukup memenuhi
kebutuhan. Itulah sebabnya maka usaha mencetak calon-calon pegawai makin
dipergiat lagi. Kini tugas departemen adalah memelihara sekolah-sekolah yang
ada dengan lebih baik dan mempergiat usaha-usaha perluasan sekolah-sekolah
baru.
Pada
tahun 1893 timbullah differensiasi pengajaran bumi putera. Hal ini disebabkan:
1.
Hasil sekolah-sekolah bumi putra kurang
memuaskan pemerintah colonial. Hal ini terutama sekali desebabkan karena isi
rencana pelaksanaannya terlalu padat.
2.
Dikalangan pemerintah mulai timbul perhatian
pada rakyat jelata. Mereka insyaf bahwa yang harus mendapat pengjaran itu bukan
hanya lapisan atas saja.
3.
Adanya kenyataan bahwa masyarakat Indonesia
mempunyai kedua kebutuhan dilapangan pendidikan yaitu lapisan atas dan lapisa
bawah.
Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi
pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125
yang membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:
a) Sekolah-sekolah
kelas I untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.
b) Sekolah-sekolah
kelas II untuk rakyat jelata.
Perbedaan
sekolah kelas I dan kelas II antara lain:
Kelas
I
Tujuan:
memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan dan perusahaan.
Lama
bersekolah: 5 tahun
Mata
pelajarannya: membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan
alam, menggambar, dan ilmu ukur.
Guru-guru:
keluaran Kweekschool
Bahasa
pengantar: Bahasa Daerah/Melayu
Kelas
II
Tujuan:
Memenuhi kebutuhan pengajaran di kalangan rakyat umum
Lama
bersekolah: 3 tahun
Mata
paelajaran: Membaca, menulis dan berhitung.
Guru-guru:
persyaratannya longgar
Bahasa
pengantar: Bahasa Daerah/Melayu
Pada
tahun 1914 sekolah kelas I diubah mejadi HIS (Hollands Inlandse School) dengan
bahasa pengantar bahasa Belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut
juga sekolah vervolg (sekolah sambungan) dan merupakan sekolah lanjutan
dari sekolah desa yang mulai didirikan sejak tahun 1907.
II.2.
Politik Etika dan pengajaran
Indonesia yang kaya raya ini di keruk terus
menerus oleh penjajah Belanda. Keuntungan mengalir terus ke negeri Belanda.
Rakyat Indonesia tetap miskin. Keadaan ini sangat menggelisahkan kaum Importir
Belanda yang membawa barang hasil industry dari Eropa ke Indonesia. Mereka
tidak dapat menjual barangnya karena daya beli masyarakat sangat rendah,
sedangkan industri di negeri Belanda sedang pesat. Mereka menginginkan agar
Indonesia yang banyak penduduknya itu menjadi pasar bagi industry Belanda. Sedangkan
para eksportir mendapat laba besar dengan membawa barang mentah dari Indonesia.
Untuk memenuhi kaum importir tidak ada jalan lain yang harus segera ditempuh
selain memperbaiki dan membuat ekonomi rakyat Indonesia yang sudah rusak.
Selain itu pada tahun 1899 terbit sebuah
artikel oleh Van Devender berjudul “Hutang Kehormatan” dalam majalah De Gids.
Disitu ia mengemukakan bahwa keuntungan yang diperoleh oleh Indonesia selama
ini hendaknya dibayar kembali dari perbendaharaan Negara. Peristiwa itu dapat
dipandang sebagai ekspresi ide yang baru kemudian dikenal dengan politik etika.
Van Devender menganjurkan program ini untuk memajukan kesejahteraan rakyat
dengan memperbaiki irigasi agar memprodusi pertanian, menganjurkan trasmigrasi
dan perbaikan dalam lapangan pendidikan. Ia juga mengembangkan pengajaran
bahasa Belanda secara cultural lebih maju dan dapat menjadi pelopor bagi
bangsanya.
Faktor lain yang menyebabkan berlangsungnya
politik etika ini ialah kebangkitan Nasional dengan berdirinya Budi Utomo pada
tahun 1908, serikat islam partai politik pertama di Indonesia yang didasarkan
atas organisai Barat didirikan tahun 1919, adanya volksraad tahun 1918 yang
merupakan saluran bagi orang Indonesia untuk menyatakan pendapatnya. Sejak
dilaksanakannya politik etika tampak sekali kemajuan dalam pendidikan dengan
diperbanyaknya sekolah rendah, sekolah yang berorientasi Barat untuk orang Cina
dan Indonesia didirikan .Demikian juga pendidikan dikembangkan secara vertical
dengam didirikannya MULO dan AMS yang terbuka bagi anak Indonesia untuk
melanjutkan ke tingkat universitas.
Dalam rangka memperbaiki pengajaran rendah
bagi kaum bumi putra, maka pada tahun 1907 diambil dua tindakan penting yaitu:
1. Memberi
corak dan sifat kebelandaan-belandaan pada sekolah kelas I, misalnya:
a) Bahasa
Belanda dijadikan mata pelajaran sejak kelas 3
b) Di
kelas 6 bahasa Belanda dijadikan bahasa pengantar
c) Lama
belajar menjadi 7 tahun
d) Tahun
1914 dijadikan KIS dan menjadi bagian pengajaran rendah barat
e) Murid-muridnya
anak-anak bangsawan dan terkemuka
2. Mendirikan
Sekolah Desa
Maksud pemerintah untuk memperhatikan
kepentingan rakyat Indonesia tidak tercapai, karena sekolah-sekolah bumi putra
kelas II merupakan lembaga yang mahal dan memerlukan anggaran yang besar. Maka
atas perintah Gubernur Jendral Van Heutsz tahun 1907 didirikan sekolah-sekolah
desa. Bangunannya didirikan oleh desa dan guru-gurunya juga diangkat oleh desa
pula, jadi bukan pegawai negeri.
Jadi
susunan pengajaran bagi anak-anak Indonesia untuk sekolah rendah ada tiga,
yaitu:
a) Sekolah
Desa, bagi anak-anak biasa
b) Sekolah
kelas II, yang kemudian diubah menjadi sekolah Vervolg
c) Sekolah
kelas I, yang sejak tahun 1914 dijadikan HIS bagi anak-anak bangsawan dan
aristocrat
II.3
Sistem persekolahan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda
Secara umum sistem pendidikan khususnya
system persekolahan didasarkan kepada golongan penduduk menurut keturunan atau
lapisan (kelas) social yang ada dan menurut golongan kebangsaan yang berlaku
waktu itu.
Pendidikan Rendah (Lager
Onderwijs)
Pada
hakikatnya pendidikan dasar untuk tingkatan sekolah dasar mempergunakan system
pokok yaitu:
Sekolah
rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
a) Sekolah
rendah Eropa, yaitu ELS (Europese Lagere school), yaitu sekolah rendah
untuk anak-anak keturunan Eropa atau anak-anak turunan Timur asing atau
Bumi putra dari tokoh-tokoh terkemuka. Lamanya sekolah tujuh tahun 1818.
b)
Sekolah Cina Belanda, yaitu HCS (Hollands
Chinese school), suatu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan tmur asing,
khususnya keturunan Cina. Pertama didirikan pada tahun 1908 lama sekolah tujuh
tahun.
c)
Sekolah Bumi putra Belanda HIS
(Hollands inlandse school), yaitu sekolah rendah untuk golongan penduduk
Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak golongan bangsawan,
tokoh-tokoh terkemuka atau pegawai negeri. Lamanya sekolah tujuh tahun dan
pertama didirikan pada tahun 1914.
Sekolah
rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah
1.Sekolah
Bumi Putra kelas II (Tweede klasee).
Sekolah
ini disediakan untuk golonagan bumi putra. Lamaya sekolah tujuh tahun, pertama
didirikan tahun 1892.
2.Sekolah
Desa (Volksschool). Disediakan bagi anak-anak golongan bumi putra. Lamanya
sekolah tiga tahun yang pertama kali didirikan pada tahun 1907.
Sekolah
Lanjutan (Vorvolgschool). Lamanya dua tahun merupakn kelanjutan dari sekolah
desa, juga diperuntukan bagi anak-anak golongan bumi putra. Pertama kali
didirikan pada tahun 1914.
3.
Sekolah Peralihan (Schakelschool)
Merupakan
sekolah peralihan dari sekolah desa (tiga tahun) kesekolah dasar dengan
bahasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya lima tahun dan diperuntukan
bagi anak-anak golongan bumi putra.
Disamping sekolah dasar tersebut diatas masih
terdapat sekolah khusus untuk orang Ambon seperti Ambonsche
Burgerschool yang pada tahun 1922 dijadikan HIS. Untuk anak dari
golongan bangsawan disediakan sekolah dasar khusus yang disebut sekolah Raja (Hoofdensschool).
Sekolah ini mula-mula didirikan di Tondano pada tahun 1865 dan 1872, tetapi
kemudian diintegrasi ke ELS atau HIS.
Pendidikan lanjutan = Pendidikan
Menengah
MULO (Meer Uit gebreid lager school),
sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa pengantar
bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang pertama
didirikan pada tahun 1914 dan diperuntukan bagi golongan bumi putra dan timur
asing. Sejak zaman jepang hingga sampai sekarang bernama SMP. Sebenarnya sejak
tahun 1903 telah didirikan kursus MULO untuk anak-anak Belanda, lamanya dua
tahun.
AMS (Algemene Middelbare School) adalah
sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan diperuntukan
golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang petama
didirikan tahun 1915. AMS ini terdiri dari dua jurusan (afdeling= bagian),
Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan alam ) pada zaman
jepang disebut sekolah menengah tinggi, dan sejak kemerdekaan disebut SMA.
HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah
warga Negara tinggi adalah sekolah menengeh kelanjutan dari ELS yang disediakan
untuk golongan Eropa, bangsawan golongan bumi putra atau tokoh-tokoh terkemuka.
Bahasa pengantarnya adalah bahasa belanda dan berorentasi ke Eropa Barat,
khususnyairikan pada belanda. Lama sekolahnya tiga tahun dan lima tahun.
Didirikan pada tahun 1860
Pendidikan Kejuruan
(vokonderwijs )
Sebagai pelaksanaan politik etika pemerintah
belanda banyak mencurahkan perhatian pada pendidikan kejuruan. Jenis sekolah
kejuruan yang ada adalah sebagai berikut:
Sekolah pertukangan (Amachts
leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah dan
menerima sekolah lulusan bumi putra kelas III (lima tahun)atau
sekolah lanjutan (vervolgschool). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk
mendidik tukang-tukang. didirikan pada tahun 1881
Sekolah pertukangan
(Ambachtsschool) adalah sekolah pertukangan berbahasa
pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga tahun menerima lulusan HIS,
HCS atau schakel. Bertujuan untuk mendidik dan mencetak mandor jurusanya
antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan piñata batu
Sekolah teknik (Technish
Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachtsschool, berbahasa
Belanda, lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik
tenaga-tenaga Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah
dibawah insinyur.
Pendidikan Dagang (Handels
Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa
yang berkembang dengan pesat.
Pendidikan pertanian
(landbouw Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertaian
Yang menerima lulusan sekolah dasra yang berbahasa penganatar belanda. Pada
tahun 1911 mulai didirikan sekolah pertanian (cultuurschool) yang terdiri dari
dua jurusan, pertanian dan kehutanan. Lama belajaranya sekitar 3-4 tahun, dan
bertujuan untuk menghasilkan pengawas-pengawas pertanian dan kehutanan. Pada
rtahun 1911 didirikan pula sekolah pertanian menengah atas (Middelbare
Landbouwschool) yang menerima lulusan MULO atau HBS yang lamanya belajar 3
tahun.
Pendidikan kejuruan
kewanitaan (Meisjes Vakonderwijs).
Pendidikan
ini merupakan kejuruan yang termuda. Kemudian sekolah yang sejenis yang
didirikn oleh swasta dinamakan Sekolah Rumah Tangga (Huishoudschool). Lama
belajarnya tiga tahun.
Pendidikan keguruan
(Kweekschool). Lembaga keguruan ini adalah lembaga yang
tertua dan sudah ada sejak permulaan abad ke-19. Sekolah guru negeri yang
pertama didirikan pada tahun 1852 di Surakarta. Sebelum itu pemerintah telah
menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normal Cursus yang
dipersiapkan untuk menghasilkan guru-guru sekolah desa. Pada abad ke-20
terdapat tiga macam pendidikan guru, yaitu:
Normalschool,sekolah
guru dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima
tahun, berbahasa pengantar bahasa dearah.
Kweekschool,
sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa belanda.
Hollandschool
Indlandschool kweekschool, sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belada dan
bertujuan menghasilkan guru HIS-HCS.
Pendidikan Tinggi (Hooger
Onderwijs)
Karena terdesak oleh tenaga ahli, maka
didirikanlah:
a) Sekolah
Tehnik Tinggi (Technische Hoge School).
Sekolah Tehnik Tinggi ini yang diberi nama THS didirikan
atas usaha yayasan pada tahun 1920 di Bandung. THS adalah sekolah Tinggi yang
pertama di Indonesia, lama belajarnya lima tahun. Sekolah ini kemudian menjelma
menjadi ITB.
b) Sekolah
Hakim Tinggi (Rechskundige Hoge school).
RHS didirikan pada tahun 1924 di Jakarta. Lama belajarnya
5 tahun, yang tama AMS dapat diterima di RHS. Tamatan ini dijadikan jaksa atau
hakim pada pengadilan.
c) Pendidiakn
tinggi kedokteran.
Lembaga ini di Indonesia di mulai dari sekolah dasar lima
tahun. Bahasa pengantarnya bahasa melayu . pada tahun 1902 sekolah dokter jawa
diubah menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Indische Artsen) yang menerima
lulusan ELS, dan berbahasa pengantar Belanda. Lama belajarnya 7 tahun. Kemudian
syarat penerimaannya ditingkatkan menjadi lulusan MULO. Pada tahun 1913
disamping STOVIA di Jakarta didirikan sekolah tinggi kedokteran (Geneeskundige
Hogeschool) Yang lama belajaranya 6 tahun dan menerima lulusan AMS dan
HBS.
II.4.
Beberapa Ciri Umum Politik Pendidikan Belanda
Politik pendidikan colonial erat hubungannya
dengan politik mereka pada umumnya, suatu politik yang didominasi oleh golongan
yang berkuasa dan tidak didorong oleh nilai-nilai etis dengan maksud untuk
membina kematangan politik dan kemerdekaan tanah jajahannya. Berhubungan dengan
sikap itu dapat kita lihat sejumlah ciri politik dan prakti pendidikan
tertentu.
Menurut Tilaar (1995) dalam pandangannya
menyebutkan ada 5 ciri yang dapat ditemukan pendidikan kita dimasa colonial
belanda yaitu:
System
Dualisme
Dalam system dualisme diadakan garis
pemisahan antara system pendidikan untuk golongan Eropa dan system pendidikan
unutk golongan bumi putra. Jadi disini diadakan garis pemisah sesuai dengan
politik colonial yang membedakan antara bumi putra dan pihak penjajah.
System
Korkondasi
System ini berarti bahwa pendidikan didaerah
penjajahan disesuaikan dengan pendidikan yang terdapat di Belanda. System ini
diasumsikan bahwa dengan System yang berkrkondasi dengan system yang ada di
negeri Belanda, maka mutu pendidikan terjamin setingkat pendidikan di Negara
Belanda.
Sentralisasi
Kebijakan pendidikan dizaman colonial diurus
oleh departemen pengajaran. Departemen ini yang mengatur segala sesuatu
mengeani pendidikan dengan perwakilannya yang terdapat dipropinsi-propinsi Besar.
Menghambat
gerakan Nasional
Pendidikan pada masa itu sangat selektif
karena bukan diperuntukan untuk masyarakat pribumi putra untuk mendapatkan
pendidikan dengan seluas-luasnya atau pendidikan yang lebih tinggi. Didalam
kurikulum pendidikan colonial pada waktu itu, misalnya sangat dipentingkan
penguasaan bahasa belanda dan hal-hal mengenai negeri belanda. Misalnya dalam
pengajaran ilmu bumi, anak-anak bumi putra harus menghapal kota-kota kecil yang
ada di negeri Belanda.
Perguruan
swasta yang militer
Salah satu perguruan swasta yang gigih
menentang kekuasaan colonial adalah seolah-olah taman siswa yang didirikan oleh
kihajar dewantara tanggal 3 juli 1922.
Tidak
adanya perencanaan pendidikanyan sistematis
Perkembangan pendidikan merupakan rangkaian kompromi
antara usaha pemerintah untuk memberikan pendidikan minimal bagi pribumi dan
tuntutan yang terus menerus dari pihak Indonesia untuk memperoleh pendidikan
yang sama dengan orang Belanda.
Menurut Prof. Dr. S. Nasution mengemukakan
enam cirri umum politik pendidikan Belanda, yaitu :
Dualisme
Dualisme dalam pendidikan dengan adanya
sekolah untuk anak Belanda dan untuk yang tak berada, sekolah yang memberi
kesempatan melanjutkan dan tidak memeberi kesempatan.
Gradualisme
Gradualisme dengan mengusahakan pendidikan
rendah yang sederhana mungkin bagi anak Indonesia dan memperlambat lahirnya
sekolah untuk anak Indonesia.
Prinsip
Konkordansi
Prinsip
yang memaksa semua sekolah berorientasi barat mengikuti model sekolah Nederland
dan menghalangi penyesuaiannya dengan keadaan Indonesia.
Control
sentral yang kuat
Yang menciptakan birokrasi yang ketat yang
hanya memungkinkan perubahan kurikulum dengan persetujuan para pembesar di
Indonesia maupun di negeri Belanda.
Tidak
adanya perencanaan pendidikan yang sistematis
Menyebabkan pemerintah mengadakan percobaan
dengan berbagai macam sekolah menurut keadaan zaman.
Pendidikan
pegawai sebagai tujuan utama sekolah.
Penyelenggaraan dan penerimaan murid
didasarkan atas kebutuhan pemerintah Belanda dalam tenaga kerja.
Beberapa prinsip yang oleh pemerintah Belanda
diambil sebagai dasar kebijakannya di bidang pendidikan antara lain:
·
Menjaga jarak atau tidak memihak salah satu
agama tertentu;
·
Memperhatikan keselarasan dengan lingkungan
sehingga anak didik kelak mampu mandiri atau mencari penghidupan guna mendukung
kepentingan kolonial;
·
Sistem pendidikan diatur menurut pembedaan
lapisan sosial, khususnya yang ada di Jawa.
·
Pendidikan diukur dan diarahkan untuk
melahirkan kelas elit masyarakat yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung
supremasi politik dan ekonomi pemerintah kolonial. Jadi secara tidak langsung,
Belanda telah memanfaatkan kelas aristokrat pribumi untuk melanggengkan status
quo kekuasaan kolonial di Indonesia
KESIMPULAN
Alasan orang Belanda mendirikan sekolah bagi
anak-anak Indonesia yaitu untuk mendidik anak Belanda dan Jawa agar menjadi
pekerja yang kompeten pada VOC. Dan pada saat itu belum terdapat pengajaran
klasik. Mengajar berdasarkan pengajaran individual. Murid-murid datang seorang
demi seorang ke meja guru dan menerima bantuan individual. Bahasa yang
dipergunakan adalah bahasa melayu dan portugis, karena bahasa belanda masih
dirasakan sulit.
Faktor-faktor yang
menyebabkan berlangsungnya politik etika :
a.
Terbit sebuah artikel oleh Van Devender
berjudul “Hutang Kehormatan” dalam majalah De Gids. Disitu ia mengemukakan
bahwa keuntungan yang diperoleh oleh Indonesia selama ini hendaknya dibayar
kembali dari perbendaharaan Negara.
b.
Factor lain yang menyebabkan berlangsungnya
politik etika ini ialah kebangkitan Nasional dengan berdirinya Budi Utomo pada
tahun 1908, serikat islam partai politik pertama di Indonesia yang didasarkan
atas organisai Barat didirikan tahun 1919,
c.
adanya volksraad tahun 1918 yang merupakan
saluran bagi orang Indonesia untuk menyatakan pendapatnya.
d.
Sistem persekolahan pada zaman pemerintahan
Hindia Belanda, secara umum sistem pendidikan khususnya system persekolahan
didasarkan kepada golongan penduduk menurut keturunan atau lapisan (kelas)
social yang ada dan menurut golongan kebangsaan yang berlaku waktu itu,
diantaranya:
1.
Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs)
2.
Pendidikan lanjutan = Pendidikan Menengah
3.
Pendidikan Kejuruan (vokonderwijs )
4.
Pendidikan Tinggi (Hooger Onderwijs)
Ciri
umum politik pendidikan Belanda :
a. System
Dualisme
b.
System Korkondasi
c.
Sentralisasi
d.
Menghambat gerakan Nasional
e.
Perguruan swasta yang militer
f.
Tidak adanya perencanaan pendidikanyan
sistematis
DAFTAR
PUSTAKA
Prof.
Dr. H. Afifuddin,2007. Sejarah
Pendidikan. Prosfect: Bandung
Prof.
Dr. S. Nasution, 1995. Sejarah
Pendidikan Nasional. Bumi Aksara: Jakarta
0 komentar:
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.