PRAGMATISME
A.
PENDAHULUAN
Pragmatisme merupakan gerakan filsafat Amerika yang mulai
terkenal selama satu abad terakhir. Aliran filsafat ini merupakan suatu sikap,
metode, dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan
kepercayaan sebagai ukuranuntuk menetapkan nilai kebenaran. Filsafat ini
berusaha bersikap kritis terhadap system-sistem filsafat sebelumnya.
Pragmatisme merupakan salah satu dari sekian munculnya
aliran filsafat yang berkembang pada abad kontemporer. Pragmatisme ini berasal
dari kata ‘practic’dan ‘practical’. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani
yakni dari kata pragma yang berarti action. Pengertian pragmatisme adalah suatu
aliran yang mengajarkan bahwa yang benar
ialah apa yang membuat dirinya sebagai benar dengan perantaraaan
akibat-akibatnya yang bermamfaat secara praktis. Filsafat pragmatis ini pertama
kali dikenalkan oleh Charles Pierce pada tahun1878 melalui artikelnya yang
berjudul ‘How to Make our ideas clears’.
Namun nama yang melekat dalam filsafat pragmatisme adalah William James. Hal
ini mungkin gagasan-gagasan yng dilontarkan James mampu memberikan pengaruh
yang lbih besar pda masyarakat dunia sekaligus yng mempopulerkan filsafat
pragmatis di Amerika Serikat.
Dalam perkembangan selanjutnya filsafat ini ternyata
berjalan dalam tiga jurusan yang berbeda, maksudnya sekalipun semuanya
berpangkal dari satu gagasan asal, namun bermuara dalam kesimpulan-kesimpulan yang
berbeda. Tetapi pada dasarnya ketiganya itu adalah sama, yaitu menolak segala
intelektualitas, absolutisme dan meremehkan logika formal.
Melihat defenisi diatas tampaknya pegangan filsafat
pragmatis adalah logika pengamtan. Dimana aliran ini bersedia menerima segala
sesuatu, dengan syarat dapat membawa akibat yang praktis. Termasuk
pengalaman-pengalaman pribadi diterima asla bermamfaat. Bahkan kebenaran mistis
dipandang juga. Dengan demikian landasan pragmatisme adalah manfaat bagi hidup
praktis.
B.
Pembahasan
Sesuatu yang penting daam filsafat pragmatis dan menjadi
pegangan adatah logika pengamatan. Oleh karena itu aliran ini bersedia mcnerima
segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Meskipun itu
pengalaman-pengalaman yang bersifat pribadi, kebenaran mistis, semuanya dapat
diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan, dengan syarat membawa akibat
praktis yang bermanfaat. Atas dasar inilah maka patokan bagi pragmatisme adalah
manfaat bagi hidup praktis.
Dasar-dasar yang digunakan dalam filsafat pragmatis adaIah
dengan menggunakan rumus sebagai berikut: pertama menolak segala intelektualisme,
kedua, absolutisme dan ketiga meremehkan logika formal. Aliran pragmatis
menolak intelektuaIisme, ini berarti juga menentang rasionalisme sebagai sebuah
pretensi dan metode. Dengan demikian tidak mempunyai aturan-aturan dan
doktrin-doktrin yang menerima metode. Seorang ahli pragmatis Italia bernama Papini
mengatakan ; pragmatis adalah ketiadaan dalam teori pragmatis, ibarat seperti
sebuah koridor dalam sebuah hotel.
Dasar kedua adalah absolutisme. Pragmatisme tidak mengenal
kebenaran yang bersif’at mutlak, yang berlaku umum ataupun bersifat tetap bahkan
yang berdiri sendiripun tidak ada. Alasan ini disebabkan adanya pengalaman yang
berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangan pengalaman itu
senantiasa akan berubah, karena di dalam prakteknya apa yang dianggap benar
dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tidak ada kebenaran
yang mutlak, kecuali yang ada adalah kebenaran-kebenaran ( dalam bentuk jamak),
artinya apa yang benar daJam pengalarnan-pengalaman yang khusus, yang setiap
kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.
Pokok ajaran yang terakhir adalah meremehkan logika formal.
Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa pegangan pragmatism adalah logika
pengamatan, hal ini dapat berupa pengalaman-pengalaman pribadi ataupun
pengalaman mistis. Dengan demikian ini berarti bahwa pragmatism dalam membuat
suatu kesimpulan-kesimpulan tidak memiliki aturan-aturan yang tetap yang dapat
dijadikan standart atau ukuran dalam merumuskan suatu kesimpulan. Hukum
kebenaran yang terus berjalan ini, maka nilai pertimbangannya adalah akal dan
pemikirannya, sementara yang dijadikan sebagai tujuan adalah dalam perbuatannya
atau aplikasinya. Proses yang terjadi pada akal dan pemikiran itu harus mampu
menyesuaikan dengan kondisi dan situasinya. Sesungguhnya akal dan pemikiran itü
menyesuaikan diri dengan tuntutan kehendak dan tuntutan perbuatan.
- William James (1842-1910)
William James dilahirkan di New York, anak dan Henry James,
William James belajar ilmu kedokteran di Havard Medical ShooJ pada tahun 1864
dan mendapat M.D-nya tahun 1869, tetapi William tidak tertarik ilmu pengobatan
dan menyenangi fungsi alat-alat tubuh kemudian belajar psikologi di Jerman dan
Perancis pada tahun 1870. Setelah lulus James mengajar di Universitas Havard.
secara berturut-turut mengajar mata kuliah Anatomi, fisiologi, psikologi dan filsafat
sampai tahun 1907. Tiga tahun kemudian 1910 James mcninggal dunia. Karya-karya
James yang terpenting adalab the principles of’ psychology (1890), the will to
believe (1897), Human immortality (1898), the varietes of religious experience
(1902), dan pragmatism (1907).
William James seorang ahli psikolog, namun James tertarik
untuk mempelajari filsafat. Ketertarikannya ini didasarkan kepada dua hal yaitu
ilmu pengetahuan dan agama. Seorang ilmuan mempelajari tentang pengobatan akan
memikirkannya bagaimana akibat dan hasil pengobatan itu, selanjutnya berusaha menyeleksi
dengan kemampuan emosi agamanya.
Pada bidang agama William James menunjukkan karyanya yang
berjudul the varieties of religious experience, James mengemukakan bahwa
gejala-gejala keagamaan itu berasal dan kebutuhan-kebutuhan perorangan yang
tidak disadari. Pengungkapan yang dilakukan seseorang itu berlain-lainan,
mungkin pada alam di bawah sadar yang dijumpai pada realitas kosmis yang lebih
tinggi. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang dapat meneguhkan hal tersebut
secara mutlak. Bagi seseorang yang memiliki kepercayaan hal itu merupakan
realitas kosmis yang tinggi, atau merupakan nilai kebenaran subyektif dan
relatif. ini berarti sepanjang kepercayaan itu memberikan kepada seseorang akan
nilai hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai, keamanan
kasih sesama dan lain-lain. Sesungguhnya nilai agama / pengalaman keagamaan mempunyai
nilai yang sama, apabila akibatnya sama-sama memberi kepuasan kepada kebutuhan
keagamaan.
Dalam mempelajari filsafat pragmatisme yang dikenalkan oleh
Charles Pierce ; James berusaha menginterpretasikan dengan sebutan pragmatism
: A new name for someold ways of thinkng 1907. Kemudian James menulisnya dalam sebuah
kritikan yang ditampakkan dalam karyanya the meaning of truth (1909). Dalam
memahami kebenaran James mendasarkan pemikirannya pada radical empiricism. Fakta
ini dibuat karena adanya pengalaman manusia yang dilakukan terus menerus.
Menurut James tidak ada kebenaran mutlak yang berlaku umum ataupun yang bersifat
tetap bahkan yang berdiri sendiri lepas dan akal ‘yang mengenal, Karena
pengalaman manusia akan terus berjalan dan segala sesuatu yang dianggap benar, namun
dalam tahap perkembangannya akan berubah. ini disebabkan adanya koreksi dan
pengalaman-pengalaman berikutnya. Kebenaran yang ada hanyalah kebenaran-kebenaran
yang bersifat jamak, artinya benar pada pengalaman-pengalaman khusus akan diubah
pada pengalaman berikutnya.
Nilai pertimbangan dalam pragmatisme tergantung pada
akibatnya yaitu kepada kerjanya, didasarkan pada keberhasilan dan perbuatan
yang disiapkan oleh pertimbangan tersebuL Apabila pertimbangan itu benar maka akan
bermanfaat bagi pelakunya. Oleh karena itu dalam melakukan pertimbangan harus
benar-benar terseleksi agar mempero[eh manfaat yang diharapkan.
Antara agama dengan filsafat pragmatis diharapkan memberikan
rasa ketenangan dan kedamaian. Akihatnya ketika james tertarik kepada ilmu
pengetahuan dan agama ini dimaksudkan, bahwa ketika James mempelajari studi
pengobatan dengan tendensi materialism maka berusaha mengecek dengan emosi
agarna (perasaan agama).
Oleh karena itu James dalam mempelajari agama atau
kepercayaan memberikan tiga opsi yang menjadi pilihan, yaltu : pertama ;
living or died. Kedua, forced or avoidable dan ketigu momentous or trivial. Opsi
yang ditawarkan ini mencoba memberikan sebuah makna kehidupan ini bahwa
menjalankan atau mengerjakan sesuatu harus senantiasa memberikan rasa
ketenangan, Kenyataan hidup harus dijalani dan dihadapi dengan gigih serta dapat
mengambil manfaat terutama bagi dirinya. Karena manusia selamanya tidak akan
hidup terus tetapi suatu saat akan menghadapi kematian.
- John
Dewey (1859-1952)
John Dewey lahir di
Baltimor , ia salah
satu dan generasi pragmatisme yang menghasilkan pemikiran yang hebat setelah
James. Dewey menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan bidang pendidikan di Chicago (1894-1904) dan akhirnya di Universitas Colombia
(1904- 1 929).
Bagi John Dewey filsafat bertujuan untuk memperbaiki
kehidupan manusia serta lingkungannya atau untuk mengatur kehidupan manusia
serta aktifitasnya dalam memenuhi kebutuhan manusiawi. Oleh karena itu tidak
heran jika John Dewey disebut sebagai tokoh filsafat yang mempunyai karakter
yang dinamis yang diwarisi oleh Hegel, yaitu faham dualisme yang
berlebih-lebihan seperti antara between mind and body : between necessary and
contingent propositions, between cause and effect, between secular and
transcendent, namun Dewey lebih suka membuat pandangan baru dengan memperkaya
teori-teori dan memahami sebuah fungsi teori itu, dengan demikian Dewey adalah
seorang yang anti reduksionis.
Meskipun Dewey seorang pragmatis, tetapi Dewey lebih suka
menyebut sistemnya dengan istilàh instrumentalisme. Yang dimaksud instrumentalisme
adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dan konsep-konsep,
pertimbangan-pertimbangan, penyimpuIan-penyimpulan dalam bentuknya yang
bermacam-macam. Cara yang dilakukan adalah dengan menyelidiki bagaimana pikiran
fungsi dalam penentuan-penentuan yang berdasarkan pengalaman, mengenai
konsekwensi-konsekwensi dimasa depan.
Salah satu kunci filsafat instrumentalia adalah pengalaman
(experience). Filsafat harus berpijak pada pengalaman itu secara aktif dan
kritis, agar filsafat dapat menyusun sistim norma-norma dan nilai-nilai.
Filsafat Dewey yang dinamakan dengan Instrumentalisme inii
memiliki tiga aspek sebagai alat dalam melahirkan penyelidikan. Diantaranya pertama
“temporalisme” yaitu terdapat gerak kemajuan nyata dalam waktu, Pemikiran kebenaran
terus berjalan maju dengan melihat pcngalaman yang terus berlangsung. Kedua
“Futuristic” yaitu mendorong untuk melihat masa depan tidak hari kemarin.
Ketiga “milionarisme” bahwa kehidupan dunia ini dapat dibuat lebih balk dengan
kemampuan diri manusia, barangkali pandangan yang demikian juga dianut oleh
William James.
lnstrumentalisme yang dimaksud Dewey adalah ide besar
sebagai alat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang bersifat praktis.
Dewey berusaha rnengembangkan teori-teori baru tanpa melakukan reduksi dari
tokoh-tokoh pragmatis sebelumnya. ini dilakukan untuk memperoleh bentuk baru
dalam kajian filsafat pragmatis.
Oleh karena itu ketika membahas masalah agama atau
kepercayaan, Dewey mengakui bahwa semua agama termasuk kepercayaan merupakan
sebuah doktrin kebenaran yang tersirát makna intelektual. ini disebabkan bahwa
kepercayaan merupakan pengakuan yang paling hakiki dan sebagai doktrin yang
tidak dapat diubah. Disamping itu pengalaman agama seseorang merupakan petunjuk
yang diyakini setiap individu
.
Meskipun kajian agama menjadi masalah ketika dihadapkan pada
sistemnya yaitu instrumentalia, namun bukan menjadi hambatan dalam menghadapi
problem ini. Bagaimanapun juga dasar yang digunakan oleh instrumentalia adalah
pengalaman. ini jelas bahwa Dewey mengakui pengalaman seseorang meski itu
bersifat mistik atau tidak dapat dibuktikan dengan logika, yang penting akibat
dan pengalaman itu dapat memberikan nilal manfaat baginya yaitu ketenangan dan
kedamaian.
Filsafat pragmatis yang telah dipopulerkan oleh
William James dan dikembangkan John Dewey mendapat sambutan hangat dan
masyarakat Amerika, Pragmatisme mencoba mencari format baru yang mungkin
berbeda dengan filsafat yang berkembang di Yunani maupun di Eropa, meskipun
pada dasarnya filsafat ini juga melakukan reduksi terhadap filsafat Yunani,
yang dari zaman ke zaman menampakkan gaungnya.
Fakta menunjukkan sumber dasar yang digunakan
oleh William James dengan “radikal empirision”. merupakan hasil reduksi dan
pemikiran bangsa Yunani yaltu Aristoteles dengan filsafat empirismenya, yang
tidak jauh berbeda dengan pegangan utama pragmatis yaitu logika pengamatan.
Keduanya meneguhkan dengan fakta-fakta yang dapat dilihat. Tetapi pragmatis
lebih mengutamakan akibat praktis yaitu manfaat bagi hidup praktis. Sedang
empirisme (Aristoteles) tidak harus berakibat pada praktis.
Antara William James dan John Dewey, pada
dasarnya berpangkal pada gagasan asal dengan tiga doktrin pragmatis, namun pada
akhirnya bermuara pada kesimpulan-kesimpulan yang herheda, misalnya James dalam
menilai kebebasan, tidak ada kebenaran mutlak atau berdiri sendiri, sebab
pengalaman akan berjalan terus dan benar akan selalu berubah, yang ada adalah benar-benar.
Semantara Dewey menilai kebenaran adalah dengan penyelidikan, dan yang benar
adalah apa yang ada pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidiki.
Karena kebenaran memiliki nilai fungsional yang tetap, tetapi
pernyataan-pernyataan yang dianggap benar senantiasa dapat berubah. Kemiripan
diantara keduanya tersebut terkadang tidak diakui, barangkali keduanya ingin
menunjukkan karyanya yang harus dibedakan dan dihargai.
Pragmatis apabila dilihat dari sisi kelebihan
atau keuntungan mempelajarinya adalah kemudahan hidup yang tidak perlu
berangan-angan atau berfikir yang muluk-muluk, namun cukup berfikir yang
praktis dengan mempelajari pengalaman-pengalaman sendiri yang telah dilalui.
Pengalaman-pengalaman itu termasuk hal-hal yang bersifat pribadi berkaitan
dengan mistis atau agama, yang penting memberikan manfaat kedamaian hati, keberanian
hidup. Demikian William James mengungkapkan sebagai seorang yang beragama
Protestan. Nampaknya James dan Dewey dalam memandang agama mempunyai pikiran yang
sama yaitu mengakui adanya pengalaman mistic seseorang yang tidak dapat dibuktikan
dengan fakta, tetapi yang penting pada kehidupan selanjutnya menjadi lebih balk.
Karena mampu mengambil nilai manfaat praktis dan pengalaman mistis tersebut.
Sebaliknya cara-cara James dan Dewey ini berbeda ketika mencari epistimologinya
dalam kajian agama sebagaimana telah dijelaskan diatas.
Sementara kelemahan yang terdapat pada filsafat
pragmatisme adalah pada ketiga doktrin pragmatis yang perlu ditinjau lagi. Misalnya
menolak intelektualitas yaitu rasionalitas sebagai sebuah metode. Persepsinya
tidak ada planning atau rencana dalam pemikiran untuk melakukan atau mengerjakan
sesuatu, karena semuanya berjalan tanpa dikendalikan oleh akal.
Pengalaman-pengalaman adalah yang terpenting yang dapat memberikan nilai
praktis hidup. Namun apa yang terjadi jika pengalaman-pengalaman yang muncul
adalah pengalaman-pengalarnan yang mengerikan (pembunuhan, perkosaan,
kecelakaan, dan lain-lain), yang menimbulkan akibat trauma. Barangkali
pengalaman-pengalaman inilah yang harus ditinggalkan karena berakibat pada
kecemasan dan keragu-raguan dalam dirinya.
Ditolaknya rasionalisme ini didasari oleh
background William sebagai seorang psikolog yang berusaha mengkombinasikan
antara psikologi dan filsafat. Usaha ini nampak pada karyanya the sentiment
of rationality yang ditulis pada tahun 1879 memperlihatkan psikologi
memasuki filsafat. Masalah utama yang dihadapi filosof adalah rasio atau
pengertian sesuatu, maka tahun 1884 James menulis the dilemma of determinism
yang memperlihatkan sensitivitasnya terhadap aspek moral dan metafisika
kemauan bebas manusia. Filsafat membutuhkan penjelasan dan psikologi bila menyangkut
masalah agama sementara filsafat memerlukan tindakan nyata dalam masalah kehidupan,
yaitu filsafat tentang sesuatu yang khusus dan kongkrit yang disebut dengan
pragmatisme.
Masalah agama atau kepercayaan bagi James
merupakan pilihan yang ditawarkan dengan opsinya yaitu living or died, forced
or avoidable dan momentous or trivial. ini berbeda dengan Dewey bahwa baginya
semua agama atau kepercayaan itu merupakan sebuah pengakuan kepercayaan yang
diyakini kebenarannya. Doktrin ini mampu membangkitkan keyakinan pada dirinya
dalam menghadapi kehidupan. Makna agama bagi kedua tokoh ini dihayati untuk
memperoleh ketenangan dan kedamaian hidup.
- Kesimpulan
Pragmatisme merupakan simbol perkembangan filsafat diabad
kontemporer yang mendapat tempat tersendiri khususnya masyarakat Amerika Serikat.
Diakui atau tidak pragmatisme adalah bagian dan perkembangan ilmu pengetahuan
yang dihargai oleh dunia intelektual, terbukti ilmu pragmatis ini mendapat tempat
dan dipelajari di Perguruan Tinggi, sebagai bagian bahan kajian filsafat.
William James dan John Dewey adalah dua tokoh pragmatis yang
mampu menunjukkan pada dunia intelektual tentang bentuk filsafat barunya,
sebagaimana telah dijelaskan bahwa format baru itu adalah kombinasi dari ilmu
psikologi dengan filsafat terutama yang dipromotori oleh William James dengan
membentuk ilmu praktis yang disebut dengan Pragmatisme. Di sisi lain John Dewey
berusaha rnengembangkat pragmatisme dengan metode barunya yang disebut
Instrumentalisme, meskipun keduanya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang
berbeda, tetapi pada dasarnya keduanya bermuara dan satu asal yaitu dengan rnenggunakan
logika pengamatan yang terformulasikan pada penolakan segala intelektual,
absolutisme dan meremehkan logika formal.
Mempelajari filsafat tidak harus meninggalkan keyakinan
agama, namun sebaliknya justru merupakan alat utama dalam mempelajari ilmu
pengetahuan. Agama bukan penghalang untuk mencapai sukses tapi lebih dari itu
yakni sebagai motifasi untuk mencari kebenaran. Pengalaman agama merupakan
keyakinan yang dimiliki seseorang yang terkadang sulit dipercayai dengan
logika. Oleh karena itu kedua tokoh pragmatisme ini mengakui adanya agama atau
kepercayaan meskipun sejarah pragmatis pada awalnya sangat anti metafisik
spiritual tetapi akhirnya pada generasi kedua yaitu Hegelian telah mewarisi
metafisik dan Jerman. Refleksi pemikiran agama James dan John Dewey berusaha memberikan
sebuah nilai yang menarik dan patut dikaji
pada kehidupan umat beragama saat ini. Paling tidak hasil kolaborasinya itu
dapat diarnbil, yaitu sebagai pengalaman mistic yang dapat memberikan
ketenangan dan kedamaian hidup bagi penganut agama.
Penilaian terhadap pragmatisme hukan berarti mengkaburkan
pemahaman makna praktis yang telah dipopulerkan oleh William James maupun John
Dewey, tetapi karena rasa interest terhadap kajian ini, sekalipun penilaian
sisi kelebihan dan kekurangan tersebut adalah masih sangat terbatas untuk didiskusikan,
karena yang demikian itulah adalah bentuk kesempurnaan pemikiran yang
dihasilkan manusia.
Daftar Pustaka
Bronstein
J. Daniel dkk, Basic Problem Of Philosophy, America
: The United States Of America, 1964 Encyclopedia Brilanica, The university of Chicago , 1952
Hadiwijono
Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat- 2 Yogyakarta :
Kanisius, 1980
James
William, Pragmatism, Amerika : New American Library, 19740
Praja
Juhaya S., Aliran-Aliran Filsafat dan Etika Bandung: Yayasan Piara, 1997
0 komentar:
Posting Komentar
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.